PUPUT
WULANDARI
A1D117019
“GAGAP”
PENGANTAR
Bahasa merupakan alat komunikasi utama dalam
kehidupan manusia, karena tanpa bahasa kehidupan sosial antar individu yang
membentuk kelompok masyarakat sulit untuk dibina. Karena dengan bahasa manusia
mampu berkomunikasi dan bekerjasama (Kridalaksana: 2005:4).Bahasa
adalah aalat komunikasi antar anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap
manusia. Berbahasa merupakan proses mengomunikasikan bahasa tersebut. Proses
berbahasa sendiri memerlukan pikiran dan perasaan yang dilakukan oleh otak
manusia untuk menghasilkan kata-kata atau kalimat.
Secara teoritis proses
berbahasa dimulai dengan enkode semantik, enkode gramatika dan enkode fonologi.
Enkode semantik dan enkode gramatika berlangsung dalam otak, sedangkan enkode
fonologi dimulai dari otak lalu diteruskan pelaksanaannya oleh alat-alat bicara
yang melibatkan sistem syaraf otak bicara. Ketiga enkode
tersebut berkaitan dalam kegiatan produksi bahasa seseorang yang juga
berkaitan erat dengan hubungan antara otak dan organ bicara
seseorang. Manusia yang
normal fungsi otak dan alat bicaranya tentu dapat berbahasa dengan baik. Namun, mereka yang
memiliki kelainan fungsi otak dan alat bicaranya tentu mempunyai
kesulitan dalam berbahasa baik produktif maupun reseptif (menerima tanggapan
dari orang lain). Jadi, kemampuan berbahasa terganggu.
Gangguan-gangguan berbahasa tersebut sebenarnya akan
sangat mempengaruhi proses berkomunikasi dan berbahasa. Terdapat banyak sekali gangguan- gangguan berbahasa dan salah satunya
adalah adalah gagap. Secara garis besar, Gagap dapat didefinisikan sebagai
gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara.
Gejalanya adalah Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata, atau suatu
bloking yang spasmodik, bisa terjadi spasme tonik dari otot-otot bicara seperti
lidah, bibir, dan laring. Menurut
Tri Gunardi, S.Psi., gagap merupakan suatu gangguan bicara dimana aliran bicara
terganggu tanpa disadari dengan adanya pengulangan dan pemanjangan suara, suku
kata, kata atau frasa, serta jeda atau hambatan tak disadari yang mengakibatkan
gagalnya produksi suara. Banyak faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan adanya gangguan berbahasa ini , kemudian
faktor-faktor tersebut akan menimbulkan gangguan berbahasa.
Gangguan kelancaran berbicara menarik untuk dikaji karena gangguan
kelancaran berbicara dapat menghambat seseorang dalam berkomunikasi dengan
orang lain. Maka dari itu,
dalam artikel inipenulis akan menjabarkan dan menjelaskan salah satu gangguan
berbahasa yang dialami manusia yaitu berbicara gagap.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Gagap
Gagap adalah gangguan dimana suara, suku
kata, atau kata-kata diucapkan berulang atau berkepanjangan sehingga mengganggu
aliran normal berbicara. Sekitar 100 % orang dewasa gagap dimana 80% laki-laki
dan 20 % perempuan. Menurut KBBI gagap adalah gangguan
bicara (kesalahan dl ucapan dng mengulang-ulang bunyi, suku kata, atau
kata).Gagap adalah berbicara yang kacau, sering tersendat-sendat, mendadak
berhenti, lalu mengulang-ulang suku kata pertama, kata-kata berikutnya, dan
setelah berhasil mengucapkan kata-kata itu, kalimat dapat diselesaikan (Abdul
Chear, 2003:153). .Menurut Tri Gunardi, S.Psi., gagap merupakan suatu gangguan bicara
dimana aliran bicara terganggu tanpa disadari dengan adanya pengulangan dan
pemanjangan suara, suku kata, kata atau frasa, serta jeda atau hambatan tak
disadari yang mengakibatkan gagalnya produksi suara.
Minarti (2010) menyatakan bahwa gagap
adalah ganguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara.
Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata, atau suatu bloking yang
spasmodik, bisa terjadi spasme tonik dari otot-otor bicara seperti lidah, bibi,
dan laring. Gagap adalah masalah gangguan bicara yang mempengaruhi kefasihan
bicara. Penderita mengalami kesulitan yang ditandai dengan pengulangan bagian
pertama dari kata yang hendak diucapkannya, atau mehanan bunyi tunggal di
tengah kata. Jadi, gagap merupakan suatu kondisi dimana si penderita mengalami
gangguan berbicara dengan indikasi tersendatnya pengucapan kata-kata atau
rangkaian kalimat. Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide untuk mengeluarkan
kata-kata, pengulangan beberapa suku kata, kesulitan mengeluarkan bunyi pada
huruf-huruf tertentu, hingga kegagalan dalam mengeluarkan kata-kata.
2.
Macam-Macam Gagap
·
Gagap Perkembangan
Ketidaksingkrongan
emosi anak yang menggebu-gebu dan pengaturan alat bicara biasanya terjadi pada
anak usia 2-4 tahun. Kondisi gagap pada perode usia 2-4 tahun merupakan keadaan
yang masih wajar terjadi sebagai bagian dari proses perkembangan bicara anak.
Gagap biasanya muncul karena kontrol emosinya yang masih rendah dan antusime
anak untuk menggunakan ide-idenya beulum dibarengi dengan kematangan alat
bicaranya. Sementara pada anak remaja biasanya disebabkan karena kurang percaya
diri dan kecemasan akibat perubahan fisik, mental dan sosial yang sedang
dialaminya.
·
Gagap Sementara
Gagap yang disebabkan oleh faktor psikologis
biasanya terjadi pada anak usia 5-8 tahun. Umumnya disebabkan oleh faktor
psikologis, misalnya anadan pergaulan mulai
memasuki lingkungan baru yang lebih luas, seperti lingkungan sekolah, sehingga
anak memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri baik secara mental, maupun
sosial.
·
Gagap Menetap
Gagap yang tidak ada upaya atau ikhtiar
disembuhkan seumur hidup. Biasanya lebih banyak disebabkan oleh faktor kelainan
fisiologis alat bicara dan akan terus berlangsung, kecuali dibantu dengan
terapi wicara(speech therapy).
3.
Faktor Penyebab Gagap
Dalam usahanya mengucapkan kata pertama yang
barangkali gagal, penderita gagap menampakkan rasa letih dan kecewanya.
Penyebab gagap belum diketahui secara tuntas. Namun, hal-hal yang dianggap
berperan misalnya:
·
Faktor stress
·
Pendidikan anak yang terlalu keras dan
ketat, serta tidak mengijinkan anak berargumentasi atau membantah
·
Adanya kerusakan pada belahan otak
(hemisfer) yang dominan
·
Faktor neurotik famial
Dulu gagap dianggap terjadi karena adanya pemaksaan
untuk menggunakan tangan kanan pada anakanak yang kidal. Namun, kini anggapan
tersebut tidak dapat dipertahankan. Gagap termasuk disfasia ringan yang lebih
sering terjadi pada kaum laki-laki daripada perempuan, dan lebih banyak terjadi
pada golongan Gangguan Berbahasa 72 remaja daripada orang dewasa. Penjelasan
mengenai gagap akan dibahas lebih lanjut pada bab berikutnya.
Menurut Chaer (2009:153-154), kegagapan dapat
terjadi karena beberapa faktor berikut.
a.
Faktor-faktor stres dalam kehidupan
berkeluarga.
b.
Pendidikan anak yang dilakukan secara
keras dan kuat dengan membentak-bentak serta tidak mengizinkan anak
berargumentasi dan membantah.
c.
Adanya kerusakan pada belahan otak
(hemisfer) yang dominan.
d.
Faktor neurotik famial.
Nujaya (2013) menyatakan bahwa gagap
bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun psikologis. Faktor fisik kemungkinan
berasal dari keturunan yang menyebabkan ketidaksempurnaan secara fisik seperti
gangguan pada syaraf bicara, gangguan alat bicara, dan keterbatasan lidah.
Sedangkan faktor psikologis yaitu ketagangan yang berasal dari reaksi seseorang
terhadap linngkungan, diantaranya adalah stres mental karena sesuatu yang
dirasakan namun tidak mampu untuk dilakukan.
Menurut penelitian, gagap lebih banyak
disebabkan oleh faktor psikologis dibandingkan fisiologis. Trauma, ketakutan,
kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil menyebabkan seseorang menjadi gagap
sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua orangtuanya sering bertengkar sehingga
membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis.
4.
Cara Mengobati Gagap
Pengobatan dalam menangani gagap pada tiap orang berbeda-beda, disesuaikan
dengan hasil pemeriksaan dokter. Penanganan yang dilakukan juga tidak bisa
menghilangkan gagap secara menyeluruh, namun dapat membantu penderita gagap
dalam mengendalikan gejala yang ada.
Beberapa metode yang digunakan untuk mengobati gagap adalah:
·
Terapi bicara. Terapi ini berfokus pada mengurangi
frekuensi munculnya gejala gagap saat berbicara. Pasien akan diberikan arahan
untuk meminimalkan munculnya gagap dengan berbicara lebih perlahan, mengatur
pernapasan saat berbicara, dan memahami kapan gagap akan muncul. Terapi ini
juga dapat menghilangkan kegelisahan pada penderita yang sering muncul ketika
akan melakukan komunikasi.
·
Menggunakan peralatan khusus. Pasien dapat
menggunakan peralatan khusus yang bertujuan untuk mengendalikan gejala. Salah
satu alat yang sering digunakan untuk mengendalikan gejala gagap adalah DAF
atau delayed auditory feedback. Alat ini bekerja dengan mengulang apa
yang penggunanya ucapkan, sehingga membuat pengguna seperti berbicara secara
serempak dengan orang lain.
·
Terapi perilaku kognitif. Terapi
perilaku koginitif bertujuan untuk mengubah pola pikir yang dapat memperburuk
kondisi gagap. Selain itu, metode ini juga dapat menghilangkan stres dan rasa
gelisah yang dapat memicu gagap.
Belum ada obat-obatan yang terbukti dapat mengatasi gagap. Pada anak-anak,
keterlibatan orang tua sangat berpengaruh. Memahami cara berkomunikasi yang
baik dengan penderita gagap, dapat membantu dalam perbaikan kondisi penderita.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk berkomunikasi secara efektif dengan
penderita gagap adalah:
1.
Dengarkan apa yang penderita sampaikan. Lakukan kontak
mata secara alami dengan penderita selagi berbicara.
- Hindari melengkapi kata yang ingin disampaikan penderita. Biarkan penderita menyelesaikan perkataannya.
- Pilih tempat berbicara yang tenang dan nyaman. Bila perlu, atur momen ketika penderita tengah merasa sangat tertarik untuk menceritakan sesuatu.
- Hindari bereaksi negatif ketika gagap kambuh. Berikan koreksi dengan lembut dan puji penderita ketika menyampaikan suatu maksud dengan lancar.
- Berbicara secara perlahan. Penderita gagap secara tidak sadar akan mengikuti kecepatan berbicara lawan bicaranya. Jika lawan bicaranya berbicara secara perlahan, penderita juga akan berbicara secara perlahan, sehingga dapat lebih lancar menyampaikan maksudnya.
DAFTAR PUSTAKA