Senin, 07 Oktober 2019

Gangguan Berbahasa (Gagap)


PUPUT WULANDARI
A1D117019
“GAGAP”
PENGANTAR
            Bahasa merupakan alat komunikasi utama dalam kehidupan manusia, karena tanpa bahasa kehidupan sosial antar individu yang membentuk kelompok masyarakat sulit untuk dibina. Karena dengan bahasa manusia mampu berkomunikasi dan bekerjasama (Kridalaksana: 2005:4).Bahasa adalah aalat komunikasi antar anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Berbahasa merupakan proses mengomunikasikan bahasa tersebut. Proses berbahasa sendiri memerlukan pikiran dan perasaan yang dilakukan oleh otak manusia untuk menghasilkan kata-kata atau kalimat.
Secara teoritis proses berbahasa dimulai dengan enkode semantik, enkode gramatika dan enkode fonologi. Enkode semantik dan enkode gramatika berlangsung dalam otak, sedangkan enkode fonologi dimulai dari otak lalu diteruskan pelaksanaannya oleh alat-alat bicara yang melibatkan sistem syaraf otak bicara. Ketiga enkode tersebut berkaitan dalam kegiatan produksi bahasa seseorang yang juga berkaitan erat dengan hubungan antara otak dan organ bicara seseorang. Manusia yang normal fungsi otak dan alat bicaranya tentu dapat berbahasa dengan baik. Namun, mereka yang memiliki kelainan fungsi otak dan alat bicaranya tentu mempunyai kesulitan dalam berbahasa baik produktif maupun reseptif (menerima tanggapan dari orang lain). Jadi, kemampuan berbahasa terganggu.
 Gangguan-gangguan berbahasa tersebut sebenarnya akan sangat mempengaruhi proses berkomunikasi dan berbahasa. Terdapat banyak sekali gangguan- gangguan berbahasa dan salah satunya adalah adalah gagap. Secara garis besar, Gagap dapat didefinisikan sebagai gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara. Gejalanya adalah Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata, atau suatu bloking yang spasmodik, bisa terjadi spasme tonik dari otot-otot bicara seperti lidah, bibir, dan laring. Menurut Tri Gunardi, S.Psi., gagap merupakan suatu gangguan bicara dimana aliran bicara terganggu tanpa disadari dengan adanya pengulangan dan pemanjangan suara, suku kata, kata atau frasa, serta jeda atau hambatan tak disadari yang mengakibatkan gagalnya produksi suara. Banyak faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan adanya gangguan berbahasa ini , kemudian faktor-faktor tersebut akan menimbulkan gangguan berbahasa.
Gangguan kelancaran berbicara menarik untuk dikaji karena gangguan kelancaran berbicara dapat menghambat seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain. Maka dari itu, dalam  artikel inipenulis  akan menjabarkan dan menjelaskan salah satu  gangguan berbahasa yang dialami manusia yaitu  berbicara gagap.
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Gagap
Gagap adalah gangguan dimana suara, suku kata, atau kata-kata diucapkan berulang atau berkepanjangan sehingga mengganggu aliran normal berbicara. Sekitar 100 % orang dewasa gagap dimana 80% laki-laki dan 20 % perempuan. Menurut KBBI gagap adalah gangguan bicara (kesalahan dl ucapan dng mengulang-ulang bunyi, suku kata, atau kata).Gagap adalah berbicara yang kacau, sering tersendat-sendat, mendadak berhenti, lalu mengulang-ulang suku kata pertama, kata-kata berikutnya, dan setelah berhasil mengucapkan kata-kata itu, kalimat dapat diselesaikan (Abdul Chear, 2003:153). .Menurut Tri Gunardi, S.Psi., gagap merupakan suatu gangguan bicara dimana aliran bicara terganggu tanpa disadari dengan adanya pengulangan dan pemanjangan suara, suku kata, kata atau frasa, serta jeda atau hambatan tak disadari yang mengakibatkan gagalnya produksi suara.
Minarti (2010) menyatakan bahwa gagap adalah ganguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara. Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata, atau suatu bloking yang spasmodik, bisa terjadi spasme tonik dari otot-otor bicara seperti lidah, bibi, dan laring. Gagap adalah masalah gangguan bicara yang mempengaruhi kefasihan bicara. Penderita mengalami kesulitan yang ditandai dengan pengulangan bagian pertama dari kata yang hendak diucapkannya, atau mehanan bunyi tunggal di tengah kata. Jadi, gagap merupakan suatu kondisi dimana si penderita mengalami gangguan berbicara dengan indikasi tersendatnya pengucapan kata-kata atau rangkaian kalimat. Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide untuk mengeluarkan kata-kata, pengulangan beberapa suku kata, kesulitan mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf tertentu, hingga kegagalan dalam mengeluarkan kata-kata.
2.      Macam-Macam Gagap
·         Gagap Perkembangan
Ketidaksingkrongan emosi anak yang menggebu-gebu dan pengaturan alat bicara biasanya terjadi pada anak usia 2-4 tahun. Kondisi gagap pada perode usia 2-4 tahun merupakan keadaan yang masih wajar terjadi sebagai bagian dari proses perkembangan bicara anak. Gagap biasanya muncul karena kontrol emosinya yang masih rendah dan antusime anak untuk menggunakan ide-idenya beulum dibarengi dengan kematangan alat bicaranya. Sementara pada anak remaja biasanya disebabkan karena kurang percaya diri dan kecemasan akibat perubahan fisik, mental dan sosial yang sedang dialaminya.
·         Gagap Sementara
Gagap yang disebabkan oleh faktor psikologis biasanya terjadi pada anak usia 5-8 tahun. Umumnya disebabkan oleh faktor psikologis, misalnya anadan pergaulan  mulai memasuki lingkungan baru yang lebih luas, seperti lingkungan sekolah, sehingga anak memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri baik secara mental, maupun sosial.
·         Gagap Menetap
Gagap yang tidak ada upaya atau ikhtiar disembuhkan seumur hidup. Biasanya lebih banyak disebabkan oleh faktor kelainan fisiologis alat bicara dan akan terus berlangsung, kecuali dibantu dengan terapi wicara(speech therapy).
3.      Faktor Penyebab Gagap
Dalam usahanya mengucapkan kata pertama yang barangkali gagal, penderita gagap menampakkan rasa letih dan kecewanya. Penyebab gagap belum diketahui secara tuntas. Namun, hal-hal yang dianggap berperan misalnya:
·         Faktor stress
·         Pendidikan anak yang terlalu keras dan ketat, serta tidak mengijinkan anak berargumentasi atau membantah
·         Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan
·         Faktor neurotik famial
Dulu gagap dianggap terjadi karena adanya pemaksaan untuk menggunakan tangan kanan pada anakanak yang kidal. Namun, kini anggapan tersebut tidak dapat dipertahankan. Gagap termasuk disfasia ringan yang lebih sering terjadi pada kaum laki-laki daripada perempuan, dan lebih banyak terjadi pada golongan Gangguan Berbahasa 72 remaja daripada orang dewasa. Penjelasan mengenai gagap akan dibahas lebih lanjut pada bab berikutnya.
Menurut Chaer (2009:153-154), kegagapan dapat terjadi karena beberapa faktor berikut.
a.       Faktor-faktor stres dalam kehidupan berkeluarga.
b.      Pendidikan anak yang dilakukan secara keras dan kuat dengan membentak-bentak serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
c.       Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
d.      Faktor neurotik famial.
Nujaya (2013) menyatakan bahwa gagap bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun psikologis. Faktor fisik kemungkinan berasal dari keturunan yang menyebabkan ketidaksempurnaan secara fisik seperti gangguan pada syaraf bicara, gangguan alat bicara, dan keterbatasan lidah. Sedangkan faktor psikologis yaitu ketagangan yang berasal dari reaksi seseorang terhadap linngkungan, diantaranya adalah stres mental karena sesuatu yang dirasakan namun tidak mampu untuk dilakukan.
Menurut penelitian, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibandingkan fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua orangtuanya sering bertengkar sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis.
4.      Cara Mengobati Gagap
Pengobatan dalam menangani gagap pada tiap orang berbeda-beda, disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dokter. Penanganan yang dilakukan juga tidak bisa menghilangkan gagap secara menyeluruh, namun dapat membantu penderita gagap dalam mengendalikan gejala yang ada.
Beberapa metode yang digunakan untuk mengobati gagap adalah:
·         Terapi bicara. Terapi ini berfokus pada mengurangi frekuensi munculnya gejala gagap saat berbicara. Pasien akan diberikan arahan untuk meminimalkan munculnya gagap dengan berbicara lebih perlahan, mengatur pernapasan saat berbicara, dan memahami kapan gagap akan muncul. Terapi ini juga dapat menghilangkan kegelisahan pada penderita yang sering muncul ketika akan melakukan komunikasi.
·         Menggunakan peralatan khusus. Pasien dapat menggunakan peralatan khusus yang bertujuan untuk mengendalikan gejala. Salah satu alat yang sering digunakan untuk mengendalikan gejala gagap adalah DAF atau delayed auditory feedback. Alat ini bekerja dengan mengulang apa yang penggunanya ucapkan, sehingga membuat pengguna seperti berbicara secara serempak dengan orang lain.
·         Terapi perilaku kognitif. Terapi perilaku koginitif bertujuan untuk mengubah pola pikir yang dapat memperburuk kondisi gagap. Selain itu, metode ini juga dapat menghilangkan stres dan rasa gelisah yang dapat memicu gagap.
Belum ada obat-obatan yang terbukti dapat mengatasi gagap. Pada anak-anak, keterlibatan orang tua sangat berpengaruh. Memahami cara berkomunikasi yang baik dengan penderita gagap, dapat membantu dalam perbaikan kondisi penderita. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk berkomunikasi secara efektif dengan penderita gagap adalah:
1.       Dengarkan apa yang penderita sampaikan. Lakukan kontak mata secara alami dengan penderita selagi berbicara.
  1. Hindari melengkapi kata yang ingin disampaikan penderita. Biarkan penderita menyelesaikan perkataannya.
  2. Pilih tempat berbicara yang tenang dan nyaman. Bila perlu, atur momen ketika penderita tengah merasa sangat tertarik untuk menceritakan sesuatu.
  3. Hindari bereaksi negatif ketika gagap kambuh. Berikan koreksi dengan lembut dan puji penderita ketika menyampaikan suatu maksud dengan lancar.
  4. Berbicara secara perlahan. Penderita gagap secara tidak sadar akan mengikuti kecepatan berbicara lawan bicaranya. Jika lawan bicaranya berbicara secara perlahan, penderita juga akan berbicara secara perlahan, sehingga dapat lebih lancar menyampaikan maksudnya.











DAFTAR PUSTAKA